Sunday, October 7, 2012

Makalah Tes Kesehatan Jasmani



KATA PENGANTAR


Puji syukur kami naikan atas berkat Rahmat dan Tuhan Yang Maha Esa, dalam rangka memenuhi tugas makalah, akhirnya kami dapat menyelesaikan tugas makalah yang berjudul Tes Kesehatan Jasmani. Tugas makalah ini memiliki tujuan antara lain untuk mengetahui rangkaian tes, manfaat tes kesehatan jasmani, serta petunjuk pelaksaan tes.
Semoga makalah ini dapat bermanfaat khususnya untuk diri kita sendiri, umumnya kepada para pembaca makalah ini.
          Akhirnya kami ucapkan terima kasih dan mohon maaf atas segala kekurangannya.






Contoh Editorial atau Tajuk Rencana


Tragedi Jembatan Mahakam
Jembatan Mahakam 2 yang diresmikan tahun 2002 ambruk! Empat orang dilaporkan tewas, sejumlah orang luka-luka, dan korban lain masih dicari.
Ambruknya jembatan gantung terpanjang di Indonesia dan disebut sebagai Golden Gate di Kalimantan itu ramai dalam percakapan di media sosial dan media online. Selain soal investigasi penyebab ambruknya jembatan, penyelamatan korban yang masih tenggelam harus terus dilakukan. Sejumlah orang dilaporkan masih hilang. Langkah darurat harus segera diambil agar transportasi di kawasan tersebut segera bisa dipulihkan.
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono langsung menggelar rapat dan memerintahkan Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat Agung Laksono dan Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto meninjau lokasi. Kepala Polri Jenderal (Pol) Timur Pradopo juga mengutus Kepala Badan Reserse Kriminal Polri Komisaris Jenderal Sutarman untuk menyelidiki runtuhnya jembatan itu. Langkah cepat Presiden itu patut diapresiasi!
Ambruknya jembatan gantung Mahakam 2, yang panjangnya 710 meter, memang patut diselidiki. Fondasi jembatan itu selesai tahun 2000 dan jembatan Mahakam 2 itu diresmikan tahun 2002. Artinya, jembatan itu baru berumur sepuluh tahun. Direktur Jenderal Bina Marga Kementerian Pekerjaan Umum Djoko Murjanto, sebagaimana dikutip situs berita Kompas.com, menyebutkan, sesuai desain awal, jembatan Mahakam 2 didesain hingga 40 tahun, bahkan hingga 100 tahun. Ia menduga perawatan yang abai menjadi penyebab ambruknya jembatan.
Investigasi terhadap ambruknya Mahakam 2 harus dilakukan. Apakah ambruknya jembatan karena ada unsur kelalaian manusia karena jembatan itu sedang diperbaiki? Namun, apa pun, pengurangan kekuatan jembatan dari yang dirancang untuk beroperasi 40 tahun, tetapi ambruk dalam kurun waktu sepuluh tahun, harus menjadi titik awal penyelidikan. Penyelidikan forensik teknologi perlu dilakukan untuk mengetahui penyebab ambruknya jembatan. Apakah ambruknya jembatan itu karena pengurangan spesifikasi bangunan atau karena desain teknis atau karena penyebab lain. Ahli fisika pernah mengutarakan bahwa pembangunan konstruksi jembatan Mahakam tidak mempertimbangkan teori dasar perubahan angin.
Jika problemnya karena faktor kurangnya perawatan, kita pun mempertanyakan mengapa perawatan itu tak dilakukan sewajarnya? Padahal, orang yang melewati jembatan itu dipungut retribusi Rp 1.000, tanpa dasar hukum.
Kita menggarisbawahi pernyataan Djoko Murjanto soal perawatan. Bangsa ini punya kelemahan kultural dalam hal perawatan. Kita bisa membangun apa saja, tetapi kita lemah dalam pemeliharaan. Mahakam 2 hanyalah salah satu dari banyak jembatan di Indonesia. Kita tak ingin ambruknya Mahakam 2 itu menulari jembatan lain. Audit harus dilakukan terhadap jembatan lain. Penyediaan infrastruktur yang aman adalah tanggung jawab pemerintah.

Sumber : Kompas | Senin, 28 November 2011



Daulat Alam di Mentawai dan Merapi
Merapi bak bintang panggung. Dari puncaknya di ketinggian 3.000 meter dari muka laut, Gunung Merapi adalah sosok kokoh, memancarkan pesona.
Ia menjadi salah satu target penaklukan pendaki gunung. Manakala dada dan perutnya sesak oleh dorongan jutaan meter kubik lava, ia ”murka” dan memuntahkan, menyemburkan materi panas dan beracun, dengan ditonton jutaan orang. Kali ini bahkan sosok ”sakti” seperti Mbah Maridjan harus menyerah pada kuasa Merapi.
Yang satunya datang menyergap bak pencuri nyawa yang misterius, tetapi tidak kalah dahsyatnya. Gempa dan tsunami yang melanda Mentawai menewaskan tak kurang dari 117 orang dan membuat ratusan jiwa lainnya hilang. Sumber daya penciptanya ada nun jauh di kedalaman Samudra Hindia, di mana lempeng Eurasia terlibat dalam dorong-dorongan abadi dengan lempeng Indo-Australia.
Di satu sisi, tertunduk kepala kita oleh jatuhnya ratusan korban di Mentawai dan puluhan lainnya di sekitar Merapi. Dalam duka, mari kita semua ringankan hati dan tangan menolong saudara kita yang menjadi korban.
Kita melihat betapa naturalnya alam mengekspresikan diri guna mencapai keseimbangan baru. Perut bumi yang bergolak panas mendapatkan kelegaan setelah memuntahkan materi yang berikutnya menjadi pendorong kesuburan lahan pertanian. Sementara di pesisir barat Pulau Sumatera, kedua lempeng sejenak bisa tenang setelah melepas tenaga dorongan, yang mungkin kecil untuk ukuran pelat kerak bumi, tetapi katastrofik bagi manusia.
Menjadi tugas kita menyikapi semua lambang alam tersebut. Hingga kali ini kita masih berada dalam posisi defensif, dan setiap kali masih harus ”menerima kekalahan” dan ”merasakan dampak” setiap kali alam mencari keseimbangan baru. Dengan semakin majunya ilmu pengetahuan, yang lalu bisa memberi kita sensor dan detektor canggih untuk mengetahui, atau setidaknya mengurangi, potensi dampak jika kita tak sanggup menghindari sepenuhnya, mestinya kita bisa berada dalam posisi lebih baik, diwujudkan dalam korban minimal—atau bahkan nirkorban—manakala ada bencana alam.
Kita paham, semua membutuhkan kesiapan. Untuk pemerintah, berlaku pepatah gouverner c’est prevoir atau ”memerintah itu melihat lebih dulu, atau melihat ke depan”. Dengan kemampuan melihat ke depan, sebagian hasil alam yang dieksploitasi—mulai dari minyak dan gas hingga hasil hutan—digunakan untuk melengkapi sensor gunung berapi, pelampung detektor tsunami, dan pemberi peringatan untuk lahan kritis yang terancam longsor.
Mungkin kita belum cukup banyak untuk ”berinvestasi” dalam upaya pembacaan alam, hingga setiap kali ada gunung meletus atau gempa dan tanah longsor, kita selalu dalam posisi sebagai korban. Kita ingin menggugah agar kita semakin dewasa. Bukan ingin menjadi empu yang menguasai alam, tetapi bangsa yang arif dalam memahami tanda-tandanya. Alam yang subur sebenarnya memberi kita daya untuk menjadikan kita bangsa yang punya kemampuan seperti itu.

Sumber : Kompas | Kamis, 28 Oktober 2010



1
Membangun Saling Percaya
Situasi Papua yang memanas menciptakan keprihatinan baru bangsa ini. Berbagai pendekatan telah dilakukan, tetapi rantai kekerasan belum bisa disudahi.
Dalam beberapa hari terakhir, serial kekerasan terjadi di bumi Papua. Ada unjuk rasa pekerja PT Freeport soal upah, ada penembakan di kawasan Freeport yang mengakibatkan tiga orang tewas, ada pembubaran Kongres Rakyat Papua III yang berubah menjadi kekerasan, dan terakhir penembakan Kepala Kepolisian Sektor Mulia di Bandara Mulia, Puncak Jaya. Dalam dua pekan terakhir delapan orang tewas!
Menarik apa yang disinyalir peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Adriana Elisabeth, seperti dikutip harian ini, terus berlangsungnya kekerasan di bumi Papua hari-hari terakhir ini menunjukkan siklus kekerasan di Papua belum terputus.
Kekerasan yang terjadi di Papua tak bisa dilepaskan dari sejarah panjang relasi antara Papua dan Jakarta. Terasa adanya ketidakpercayaan yang tulus antara elite Jakarta dan elite Papua. Relasi itu ikut memberikan kontribusi belum ditemukannya solusi hakiki soal Papua. Wajah keindonesiaan di Papua mungkin tidak terlalu ramah bagi warga Papua dan juga mungkin sebaliknya.
Otonomi khusus telah diberlakukan di Papua melalui Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus Papua. Representasi kultural Papua diwadahi dalam Majelis Rakyat Papua yang mempunyai sejumlah tugas dan wewenang. Namun, yang menjadi pertanyaan, apakah Majelis Rakyat Papua betul-betul telah diperankan sebagai representasi kultural aspirasi Papua? Kalau belum, mengapa itu sampai bisa terjadi?
Kekerasan diyakini bukanlah solusi untuk mengakhiri konflik. Kekerasan yang dilawan kekerasan hanya akan melahirkan kekerasan baru sehingga akan terjadi spiral kekerasan. Sementara kita sendiri mungkin belum mengetahui secara persis akar masalah terus terjadinya kekerasan di Papua. Akar konflik Papua harus terus digali sehingga kita bisa menemukan solusi yang paling tepat.
Mengutip pernyataan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di sejumlah media massa, 16 Agustus 2011, menata Papua dengan hati adalah kunci dari semua langkah untuk menyukseskan pembangunan Papua sebagai gerbang timur wilayah Indonesia.
Dialog adalah solusi damai yang harus terus diupayakan dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia. Hukum tentu harus ditegakkan karena membunuh dan menembak orang sampai mati adalah tindak pidana. Pendekatan keamanan harus dilengkapi pendekatan lain, seperti pendekatan kesejahteraan dan pendekatan kultural. Dengan pendekatan yang holistik dan dialog yang tulus, kita meyakini masalah Papua bisa diselesaikan, sebagaimana kita juga bisa menyelesaikan problem di Aceh. Kemungkinan internasionalisasi masalah Papua sejauh mungkin dihindarkan karena potensi untuk itu ada!

Sumber : Kompas | Rabu, 26 Oktober 2011

Wednesday, February 22, 2012

Sistem Pencernaan pada Hewan Vertebrata dan Invertebrata

Sistem Pencernaan pada Hewan Vertebrata dan Invertebrata

Struktur alat pencernaan berbeda-beda dalam berbagai jenis hewan, tergantung pada tinggi rendahnya tingkat organisasi sel hewan tersebut serta jenis makanannya. pada hewan invertebrata alat pencernaan makanan umumnya masih sederhana, dilakukan secara fagositosis dan secara intrasel, sedangkan pada hewan-hewan vertebrata sudah memiliki alat pencernaan yang sempurna yang dilakukan secara ekstrasel.

1. Sistem Pencernaan Pada Hewan Invertebrata
Sistem pencernaan pada hewan invertebrata umumnya dilakukan secara intrasel, seperti pada protozoa, porifera, dan Coelenterata. Pencernaan dilakukan dalam alat khusus berupa vakuola makanan, sel koanosit dan rongga gastrovaskuler. Selanjutnya, pada cacing parasit seperti pada cacing pita, alat pencernaannya belum sempurna dan tidak memiliki mulut dan anus. pencernaan dilakukan dengan cara absorbs langsung melalui kulit.

a. Sistem Pencernaan Makanan Pada Cacing Tanah
yang dikeluarkan oleh getah pencernaan secara ekstrasel. Makanan cacing tanah berupa daun-daunan serta sampah organik yang sudah lapuk. Cacing tanah dapat mencerna senyawa organik tersebut menjadi molekul yang sederhana yang dapat diserap oleh tubuhnya. Sisa pencernaan makanan dikeluarkan melalui anus.

b. Sistem Pencernaan Pada Serangga
Sebagaimana pada cacing tanah, serangga memiliki sistem pencernaan makanan yang sudah sempurna, mulai dari mulut, kerongkongan, lambung, usus sampai anus.Pencernaan pada serangga dilakukan secara ekstrasel.

2. Sistem Pencernaan Pada Hewan vertebrata
Organ pencernaan pada hewan vertebrata meliputi saluran pencernaan (tractus digestivus) dan kelenjar pencernaan (glandula digestoria

a. Sistem Pencernaan Pada Ikan
Saluran pencernaan pada ikan dimulai dari rongga mulut (cavum oris). Di dalam rongga mulut terdapat gigi-gigi kecil yang berbentuk kerucut pada geraham bawah dan lidah pada dasar mulut yang tidak dapat digerakan serta banyak menghasilkan lendir, tetapi tidak menghasilkan ludah (enzim). Dari rongga mulut makanan masuk ke esophagus melalui faring yang terdapat di daerah sekitar insang.
Esofagus berbentuk kerucut, pendek, terdapat di belakang insang, dan bila tidak dilalui makanan lumennya menyempit. Dari kerongkongan makanan di dorong masuk ke lambung, lambung pada umum-nya membesar, tidak jelas batasnya dengan usus. Pada beberapa jenis ikan, terdapat tonjolan buntu untuk memperluas bidang penyerapan makanan. Dari lambung, makanan masuk ke usus yang berupa pipa panjang berkelok-kelok dan sama besarnya. Usus bermuara pada anus.

Kelenjar pencernaan pada ikan, meliputi hati dan pankreas. Hati merupakan kelenjar yang berukuran besal, berwarna merah kecoklatan, terletak di bagian depan rongga badan dan mengelilingi usus, bentuknya tidak tegas, terbagi atas lobus kanan dan lobus kiri, serta bagian yang menuju ke arah punggung. Fungsi hati menghasilkan empedu yang disimpan dalam kantung empedu untuk membanfu proses pencernaan lemak. Kantung empedu berbentuk bulat, berwarna kehijauary terletak di sebelah kanan hati, dan salurannya bermuara pada lambung. Kantung empedu berfungsi untuk menyimpan empedu dan disalurkan ke usus bila diperlukan. Pankreas merupakan organ yang berukuran mikroskopik sehingga sukar dikenali, fungsi pankreas, antara lain menghasilkan enzim – enzim pencernaan dan hormon insulin.

b. Sistem Pencernaan Pada Amfibi
Sistem pencernaan makanan pada amfibi, hampir sama dengan ikan, meliputi saluran pencernaan dan kelenjar pencernaan. salah satu binatang
amphibi adalah katak. Makanan katak berupa hewan-hewan kecil (serangga). Secara berturut-turut saluran pencernaan pada katak meliputi:
1. rongga mulut: terdapat gigi berbentuk kerucut untuk memegang mangsa dan lidah untuk menangkap mangsa,
2. esofagus; berupa saluran pendek,
3. ventrikulus (lambung), berbentuk kantung yang bila terisi makanan
menjadi lebar. Lambung katak dapat dibedakan menjadi 2, yaitu tempat masuknya esofagus dan lubang keluar menuju usus,
4. intestinum (usus): dapat dibedakan atas usus halus dan usus tebal. Usus halus meliputi: duodenum. jejenum, dan ileum, tetapi belum jelas batas-batasnya.
5. Usus tebal berakhir pada rektum dan menuju kloata, dan
6. kloaka: merupakan muara bersama antara saluran pencernaan makanan, saluran reproduksi, dan urine.
Kelenjar pencernaan pada amfibi, terdiri atas hati dan pankreas. Hati berwarna merah kecoklatan, terdiri atas lobus kanan yang terbagi lagi menjadi dua lobulus. Hati berfungsi mengeluarkan empedu yang disimpan dalam kantung empedu yang berwarna kehijauan. pankreas berwarna
Kekuningan, melekat diantara lambung dan usus dua belas jari (duadenum). pankreas berfungsi menghasilkan enzim dan hormon yang bermuara pada duodenum.

c. Sistem Pencernaan Pada Reptil
Sebagaimana pada ikan dan amfibi, sistem pencernaan makanan pada reptil meliputi saluran pencernaan dan kelenjar pencernaan. Reptil umumnya karnivora (pemakan daging). Secara berturut-turut saluran pencernaan pada reptil meliputi:
1) rongga mulut: bagian rongga mulut disokong oleh rahang atas dan bawah, masing-masing memiliki deretan gigi yang berbentuk kerucut, gigi
menempel pada gusi dan sedikit melengkung ke arah rongga mulut. Pada rongga mulut juga terdapat lidah yang melekat pada tulang lidah dengan ujung bercabang dua,
2) esofagus (kerongkongan),
3) ventrikulus(lambung),
4) intestinum: terdiri atas usus halus dan usus tebal yang bermuara pada anus.
Kelenjar pencernaan pada reptil meliputi hati, kantung empedu, dan pankreas. Hati pada reptilia memiliki dua lobus (gelambirf dan berwarna
kemerahan. Kantung empedu terletak pada tepi sebelah kanan hati.
Pankreas berada di antara lambung dan duodenum, berbentuk pipih kekuning-kuningan.

d. Sistem Pencernaan Pada Burung
Organ pencernaan pada burung terbagi atas saluran pencernaan dan kelenjar pencernaan. Makanan burung bervariasi berupa biji-bijian, hewan kecil, dan buah-buahan.
Saluran pencernaan pada burung terdiri atas:
1) paruh: merupakan modifikasi dari gigi,
2) rongga mulut: terdiri atas rahang atas yang merupakan penghubung antara rongga mulut dan tanduk,
3) faring: berupa saluran pendek, esofagus: pada burung terdapat pelebaran pada bagian ini disebut tembolok, berperan sebagai tempat penyimpanan makanan yang dapat diisi dengan cepat,
4) lambung terdiri atas:
- Proventrikulus (lambung kelenjar): banyak menghasilkan enzim pencernaan, dinding ototnya tipis.
- Ventrikulus (lambung pengunyah/empedal): ototnya berdinding tebal. Pada burung pemakan biji-bijian terdapat kerikil dan pasir yang tertelan bersama makanan vang berguna untuk membantu pencernaan dan disebut sebagai ” hen’s teeth”,
6) intestinum: terdiri atas usus halus dan usus tebal yang bermuara pada kloaka.
Usus halus pada burung terdiri dari duodenum, jejunum dan ileum.
Kelenjar pencernaan burung meliputi: hati, kantung empedu, dan pankreas. Pada burung merpati tidak terdapat kantung empedu.

e. Sistem Pencernaan pada Hewan Mamah Biak (Ruminansia)
Hewan-hewan herbivora (pemakan rumput) seperti domba, sapi, kerbau disebut sebagai hewan memamah biak (ruminansia). Sistem pencernaan makanan pada hewan ini lebih panjang dan kompleks. Makanan hewan ini banyak mengandung selulosa yang sulit dicerna oleh hewan pada umumnya sehingga sistem pencernaannya berbeda dengan sistem pencernaan hewan lain.

Perbedaan sistem pencernaan makanan pada hewan ruminansia, tampak pada struktur gigi, yaitu terdapat geraham belakang (molar) yang besar, berfungsi untuk mengunyah rerumputan yang sulit dicerna. Di samping itu, pada hewan ruminansia terdapat modifikasi lambung yang dibedakan menjadi 4 bagian, yaitu: rumen (perut besar), retikulum (perut jala), omasum (perut kitab), dan abomasum (perut masam).

Dengan ukuran yang bervariasi sesuai dengan umur dan makanan alamiahnya. Kapasitas rumen 80%, retlkulum 5%, omasum 7-8%, dan abomasums 7-8′/o.Pembagian ini terlihat dari bentuk gentingan pada saat otot spingter berkontraksi. Abomasum merupakan lambung yang sesungguhnya pada hewan ruminansia.
Hewan herbivora, seperti kuda, kelinci, dan marmut tidak mempunyai struktur lambung seperti halnya pada sapi untuk fermentasi selulosa. Proses fermentasi atau pembusukan yang dilakukan oleh bakteri terjadi pada sekum yang banvak mengandung bakteri. proses fermentasi pada sekum tidak seefektif fermentasi yang terjadi dilambung. Akibatnya, kotoran kuda, kelinci, dan marmut lebih kasar karena pencernaan selulosa hanya terjadi satu kali, yaitu pada sekum. Sedangkan pada sapi, proses pencernaan terjadi dua kali, yaitu pada lambung dan sekum keduanya dilakukan oleh bakteri dan protozoa tertentu.

Adanya bakteri selulotik pada lambung hewan memamah biak merupakan bentuk simbiosis mutualisme yang dapat menghasilkan vitamin B serta asam amino. Di samping itu, bakteri ini dapat ,menghasilkan gas metan (CH4), sehingga dapat dipakai dalam pembuatan biogas sebagai sumber energi altematif.

Sistem pencernaan makanan pada cacing tanah sudah sempurna. Cacing tanah memiliki alat-alat pencernaan mulai dari mulut, kerongkongan, lambung, usus, dan anus. Proses pencernaan dibantu oleh enzim – enzim.

Sumber: http://gurungeblog.wordpress.com/2008/11/23/sistem-pencernaan-pada-hewan/

Sistem Ekskresi pada Pisces

Sistem Ekskresi pada Pisces
Sistem eksresi ikan seperti juga pada vertebrata lain, yang mempunyai banyak fungsi antara lainuntuk regulasi kadar air tubuh, menjaga keseimbangan garam dan mengeliminasi sisa nitrogenhasil dari metabolisme protein.

Alat pengeluaran ikan terdiri dari:
• Insang yang mengeluarkan CO2 dan H2O
• Kulit ; kelenjar kulitnya mengeluarkan lendir sehingga tubuhnya licin untuk memudahkan gerak di dalam air.
• Sepasang ginjal (sebagian besar) yang mengeluarkan urine.Berkembang dua tipe ginjal pada ikan, yaitu;
• Pronefros,Ginjal pronefros adalah yang paling primitif, meski terdapat pada perkembanganembrional sebagian besar ikan, tetapi saat dewasa tidak fungsional, fungsinya akandigantikan oleh mesonephros. Perkecualian pada ikan‘hagfish’(Myxine) dan lamprey.
• MesonefrosGinjal ikan bertipe mesonefros, berfungsi seperti opistonefros pada embrio emniota.Keduanya mirip, perbedaan prinsip adalah kaitannya dengan sistem peredaran darah, tingkatkompleksitas, dan pada efisiensinya. Jumlah glomerulus ikan air tawar lebih banyak dandiameternya lebih besar dibandingkan dengan ikan laut.Ikan beradaptasi terhadap lingkungannya dengan cara khusus. Terdapat perbedaan adaptasiantara ikan air laut dan ikan air tawar dalam proses eksresi. Keduanya memiliki cara yang berlawanan dalam mempertahankan keseimbangan kadar garam di dalam tubuhnya.Air garam cenderung menyebabkan tubuh terdehidrasi, sedangkan pada kadar garam rendahdapat menyebabkan naiknya konsentrasi garam tubuh. Ginjal ikan harus berperan besar untuk menjaga keseimbangan garam tubuh. Beberapa ikan laut memiliki kelenjar eksresi garam padainsang, yang berperan dalam mengeliminasi kelebihan garam. Ginjal berfungsi untuk menyaringsesuatu yang terlarut dalam air darah dan hasilnya akan dikeluarkan lewat korpus renalis.Tubulus yang bergulung berperan penting dalam menjaga keseimbangan air. Hasil yang hilang pada bagian tubulus nefron, termasuk air dan yang lain, diabsorpsi lagi ke dalam aliran darah.Korpus renalis lebih besar pada ikan air tawar daripada ikan air laut, sehingga cairan tubuh tidak banyak keluar karena penting untuk menjaga over dilusi (agar cairan tubuh tidak terlalu encer).Elasmobranchii, tidak seperti kebanyakan ikan air laut, memiliki korpus renalis yang besar danmengeluarkan air relatif banyak, seperti pada ikan air tawar. Bangunan seperti kantung kemih pada beberapa jenis ikan hanya untuk penampung urine sementara, dan umumnya hanya berupa perluasan dari bagian akhir duktus ekskretori.

Osmorelugasi
Pengaturan tekanan osmotik cairan tubuh yang layak bagi kehidupan ikan, sehingga proses- proses fisiologis tubuhnya berfungsi normal.

• Osmoregulasi dilakukan dengan berbagai cara melalui:- ginjal- kulit- membran mulutOsmoregulasi pada ikan air tawar

• Ikan air tawar cenderung untuk menyerap air dari lingkungannya dengan cara osmosis.Insang ikan air tawar secara aktif memasukkan garam dari lingkungan ke dalam tubuh.

• Ginjal akan memompa keluar kelebihan air sebagai air seni. Ginjal mempunyai glomerulidalam jumlah banyak dengan diameter besar. Ini dimaksudkan untuk lebih dapatmenahan garam-garam tubuh agar tidak keluar dan sekaligus memompa air senisebanyak-banyaknya. Ketika cairan dari badan malpighi memasuki tubuli ginjal, glukosaakan diserap kembali pada tubuli proximallis dan garam-garam diserap kembali padatubuli distal. Dinding tubuli ginjal bersifat impermiable (kedap air, tidak dapat ditembus)terhadap air.

• Urine yang dihasilkan mengandung konsentrasi air yang tinggi.Osmoregulasi pada ikan air laut

• Ikan air laut memiliki konsentrasi garam yang tinggi di dalam darahnya. Ikan air lautcenderung untuk kehilangan air di dalam sel-sel tubuhnya karena proses osmosis. Untuk itu, insang ikan air laut aktif mengeluarkan garam dari tubuhnya. Untuk mengatasikehilangan air, ikan ‘minum’air laut sebanyak-banyaknya. Dengan demikian berarti pula kandungan garam akan meningkat dalam cairan tubuh. Padahal dehidrasi dicegah dengan proses ini dan kelebihan garam harus dihilangkan. Karena ikan laut dipaksa oleh kondisiosmotik untuk mempertahankan air, volume air seni lebih sedikit dibandingkan denganikan air tawar. Tubuli ginjal mampu berfungsi sebagai penahan air.

• Jumlah glomeruli ikan laut cenderung lebih sedikit dan bentuknya lebih kecil daripadaikan air tawar